Senin, 26 September 2011

PART II

Lelakiku, dia berselisih usia 9 tahun denganku. Ah, masalah usia tidak aku permasalahkan.
Toh bapak dan ibu ku juga usianya beda 10 tahun. Karena aku sendiri pada dasarnya menyukai pria 
yang jauh diatasku.
"Halo, kamu dimana beb?"
"Aku di kost, kamu dimana?"
"Loh, aku bbm kok gak bisa-bisa ya? aku kira kamu dimana."
tanyanya disebrang sana, entah dibagian mananya.
"Ohhh.. BIS aku habis, kamu kapan mau kesini?"
"Aku baru bangun, sebentar lagi lah ya paling juga".
"Ya udah deh".
Segera aku buru-buru mandi, dengan water heater yang kadang-kadang ngadat, semoga
saja air nya hangat, sehangat hatiku saat ini. Sesudahnya, segera aku membereskan tempat
tidur, menggantinya dengan sepray fasilitas kost, kali ini aku dapat jatah bermotif batik 
coklat tua, setua kainnya yang tampak lusuh. Ya setidaknya, bersih dan wangi. Tak lupa
aku pun sedikit bersolek agar tidak terlihat pucat.

Sebentar menurut dia itu ya tiga jam. Kesal memang, tapi mau bagaimana lagi. Aku kan hanya
bisa menunggu, demi menebus hasrat rindu dan birahiku yang setiap hari tidak pernah putus
aku utarakan. Maklumlah, aku kan tipe wanita dengan libido tinggi.
Akhirnya, setengah sepuluh malam, Lelakiku pun datang dengan polo shirt hitam dan celana
army selutut. Senyuman mengembang dan rangkulan kecil aku dapatkan. Akhirnya..

Dengan sumringah yang teramat sangat, kami memasuki kamar kost ku. Lelakiku sudah ku 
todong beberapa hari ini untuk menginap akhir weekend ditempatku. Sekedar menemani tidur
ku dan mendekap hangat relung hati yang terlalu sering merasa sepi dan sendiri. Aku tidak
mau memikirkan perasaan istri dan malaikat kecilnya. Aku ingin bersikap egois, sikap yang 
aku tiru secara tidak langsung dari sikap Lelakiku. Toh hampir setiap malam istrinya itu sering
didekapnya. Ya.. itupun jika Lelakiku memang perduli dengan istrinya, *senyum-senyum setan*.
I don't fucking care!

Lelakiku langsung mencopot kaus dan celananya, menyisakan kaus dalam dan celana dalam saja.
Dia memang tidak tahan panas walaupun suhu ruangan sudah 16 derajat. Malah biasanya, dia
bertelanjang bulat, memamerkan perut buncit sexy dan semak hutan rimba kecil favorite ku. hehe.
Aku mendekapnya mesra, sebagai gantinya ia mendaratkan ciuman rutin di dahi, kedua pipi dan
bibirku. 

"Kamu jadi nginep malem ini kan bebi?" tanyaku untuk keseratus kalinya meyakinkan dia.
Dia hanya mengangguk dengan tatapan pura-pura focus ke tv.
"Isss.... BEBI!!! jadi nginep kaaannn???" tanyaku galak dan sedikit keras tanpa melewatkan
cubitan pedas ala gue.
"Aduhhhhh.. iya sayaaang, kamu kenapa sih galak banget sama aku sekarang? gak sayang ya.."
jawabnya lucu dengan nada memelas yang dipaksakan.
Aku tertawa bahagia, ahh.. andai saja kebahagiaan ini milikku sendiri, gumamku dalam hati.

Aku mendaratkan kepalaku di lengannya yang kekar, mendekap hangat penuh hasrat dan sesekali 
kecupan kecil dan usapan lembut aku dapat. Perlahan, ku turunkan tanganku menyusuri selimut,
mencari tangan kanan Lelakiku yang menghilang dibalik celana dalamnya. Pelan-pelan, aku masukkan pula tanganku, berdekap hangat didalam celananya. Tak kuasa, ku raba juga batang
hidupnya yang sudah mulai hidup.

Hangat dan selalu membuatku bergairah. Kehidupan sexual kami, lebih menarik dari sepasang
kekasih yang mengikat janji dihadapan Tuhan. Setiap hari, selalu ada saja yang bisa 
membangkitkan birahi kami. Dan itu sudah kita jalani sekitar 16 bulan ini. Dan jika boleh jujur,
aku ini memang wanita yang memiliki daya pikat sexual mendekati seratus persen. Lelakiku pun
bilang, nikmat dan legitnya menggigit. :p

Lelakiku menoleh dan memergoki wajahku yang sedang menikmati 'joy stick' yang semakin
mengencang. Aku tersenyum kecil, ia berbalik menghadapku. Menatapku seolah penuh cinta
(iya atau tidaknya hanya dia dan Tuhannya yang tau). Bibir kami saling memagut, mendesah
gelisah berpeluh birahi. Tidak butuh waktu lama, pakaian atasku sudah terlucuti habis. Sesekali
aku mengerang penuh nikmat ketika dada kecilku dilumat olehnya.

"Bebi ayoooo..." rengekku.
"Ayo apa sih?" tanyanya mendesah hebat.
"Loh, katanya kita mau cari mam duluuu.." rengekku lagi setengah lapar dan setengah napsu.
"Yuk!" jawbnya singkat, tapi malah menarikku lebih dalam kepelukannya.
Aku tak kuasa menolak, temaram cahaya yang ku dapat dari kamar mandi berdendang indah
dipadu nada rintihan dan tawa kecil berbalut cinta. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar