Senin, 26 September 2011

PART III

Sekarang usiaku 23 tahun, usia yang tidak bisa dibilang masih remaja lagi. Usia yang sudah mulai
dikejar target menikah olehibu ku. Wanita berusia 40 tahun, wanita cantik, sabar, dan sholehah.
Guru ngaji paruh waktu yang sekarang menjadi tanggung jawabku. Wanita tangguh yang selalu
berkata sabar tatkala tersakiti bapak ku yang memang playboy dan penjahat kelamin kelas kakap.

Kurang sabar apa ibu ku, menikah dengan bapak ku pun karena dipaksa dan diancam bapak. Nenek
yang ketika itu masih hidup dengan setengah tidak rela membiarkan anaknya dinikahi bapak. Ibu
selalu bilang, andai saja waktu itu kakek masih hidup, mungkin bapak tidak akan berani. Dan
sekarang ibuku sudah menjadi bidan bersanding dengan lelaki pilihannya.

Ya beginilah hidup, tak ada bapak ku, tak ada aku dan adik-adikku juga. Kita tidak akan pernah
tau apa yang akan terjadi satu detik ke depan. Focus ku pada adik-adikku yang harus aku sekolah
kan dan aku biayai. Walau kadang focus itu bisa langsung ambyar dan tersita habis oleh keegoisan
ku yang memikirkan Lelakiku saja.

Aku tidak ingin menyebut ini karma yang diturunkan bapak ku. Aku berpacaran dengan Lelakiku
yang sudah beranak istri adalah pilihanku dan pilihan Lelakiku yang awalnya bermodal bohong
padaku. Namun Tuhan, selalu punya rencana sendiri untuk menguak sesuatu yang sulit untuk 
aku sendiri ketahui.

Aku menghentikan sejenak memainkan jempol jempolku yang mungil, rasanya terlalu panjang
dan malas untuk aku menceritakan awal pertemuanku. Don't Cry -nya  Seal sejenak mengalihkan
pendengaranku, Hemm.. merdunya suara pria hitam namun beruntung ini, bisa menikahi model
secantik Heidi Klum. Ini baru yang namanya The Real Beauty And The Beast. Hihihi.

Ah sudahlah, bisakan aku menceritakan awal aku mengenal Lelakiku ini di bagian berikutnya?
Terlalu panjang dan aku membutuhkan banyak kalimat tidak membosankan untuk bercerita.
Banyak suprise kecil yang kadang membuat jantungku turun fungsi bahkan mendadak seperti
terkena serangan stroke. Dan itu yang akan aku ceritakan, tapi sungguh jangan paksa aku
untuk bercerita malam ini. Ok sip?? lagi pula ini sudah jam 11 malam, dan besok aku harus
ngantor juga. bye.. *kecup satu-satu*

PART II

Lelakiku, dia berselisih usia 9 tahun denganku. Ah, masalah usia tidak aku permasalahkan.
Toh bapak dan ibu ku juga usianya beda 10 tahun. Karena aku sendiri pada dasarnya menyukai pria 
yang jauh diatasku.
"Halo, kamu dimana beb?"
"Aku di kost, kamu dimana?"
"Loh, aku bbm kok gak bisa-bisa ya? aku kira kamu dimana."
tanyanya disebrang sana, entah dibagian mananya.
"Ohhh.. BIS aku habis, kamu kapan mau kesini?"
"Aku baru bangun, sebentar lagi lah ya paling juga".
"Ya udah deh".
Segera aku buru-buru mandi, dengan water heater yang kadang-kadang ngadat, semoga
saja air nya hangat, sehangat hatiku saat ini. Sesudahnya, segera aku membereskan tempat
tidur, menggantinya dengan sepray fasilitas kost, kali ini aku dapat jatah bermotif batik 
coklat tua, setua kainnya yang tampak lusuh. Ya setidaknya, bersih dan wangi. Tak lupa
aku pun sedikit bersolek agar tidak terlihat pucat.

Sebentar menurut dia itu ya tiga jam. Kesal memang, tapi mau bagaimana lagi. Aku kan hanya
bisa menunggu, demi menebus hasrat rindu dan birahiku yang setiap hari tidak pernah putus
aku utarakan. Maklumlah, aku kan tipe wanita dengan libido tinggi.
Akhirnya, setengah sepuluh malam, Lelakiku pun datang dengan polo shirt hitam dan celana
army selutut. Senyuman mengembang dan rangkulan kecil aku dapatkan. Akhirnya..

Dengan sumringah yang teramat sangat, kami memasuki kamar kost ku. Lelakiku sudah ku 
todong beberapa hari ini untuk menginap akhir weekend ditempatku. Sekedar menemani tidur
ku dan mendekap hangat relung hati yang terlalu sering merasa sepi dan sendiri. Aku tidak
mau memikirkan perasaan istri dan malaikat kecilnya. Aku ingin bersikap egois, sikap yang 
aku tiru secara tidak langsung dari sikap Lelakiku. Toh hampir setiap malam istrinya itu sering
didekapnya. Ya.. itupun jika Lelakiku memang perduli dengan istrinya, *senyum-senyum setan*.
I don't fucking care!

Lelakiku langsung mencopot kaus dan celananya, menyisakan kaus dalam dan celana dalam saja.
Dia memang tidak tahan panas walaupun suhu ruangan sudah 16 derajat. Malah biasanya, dia
bertelanjang bulat, memamerkan perut buncit sexy dan semak hutan rimba kecil favorite ku. hehe.
Aku mendekapnya mesra, sebagai gantinya ia mendaratkan ciuman rutin di dahi, kedua pipi dan
bibirku. 

"Kamu jadi nginep malem ini kan bebi?" tanyaku untuk keseratus kalinya meyakinkan dia.
Dia hanya mengangguk dengan tatapan pura-pura focus ke tv.
"Isss.... BEBI!!! jadi nginep kaaannn???" tanyaku galak dan sedikit keras tanpa melewatkan
cubitan pedas ala gue.
"Aduhhhhh.. iya sayaaang, kamu kenapa sih galak banget sama aku sekarang? gak sayang ya.."
jawabnya lucu dengan nada memelas yang dipaksakan.
Aku tertawa bahagia, ahh.. andai saja kebahagiaan ini milikku sendiri, gumamku dalam hati.

Aku mendaratkan kepalaku di lengannya yang kekar, mendekap hangat penuh hasrat dan sesekali 
kecupan kecil dan usapan lembut aku dapat. Perlahan, ku turunkan tanganku menyusuri selimut,
mencari tangan kanan Lelakiku yang menghilang dibalik celana dalamnya. Pelan-pelan, aku masukkan pula tanganku, berdekap hangat didalam celananya. Tak kuasa, ku raba juga batang
hidupnya yang sudah mulai hidup.

Hangat dan selalu membuatku bergairah. Kehidupan sexual kami, lebih menarik dari sepasang
kekasih yang mengikat janji dihadapan Tuhan. Setiap hari, selalu ada saja yang bisa 
membangkitkan birahi kami. Dan itu sudah kita jalani sekitar 16 bulan ini. Dan jika boleh jujur,
aku ini memang wanita yang memiliki daya pikat sexual mendekati seratus persen. Lelakiku pun
bilang, nikmat dan legitnya menggigit. :p

Lelakiku menoleh dan memergoki wajahku yang sedang menikmati 'joy stick' yang semakin
mengencang. Aku tersenyum kecil, ia berbalik menghadapku. Menatapku seolah penuh cinta
(iya atau tidaknya hanya dia dan Tuhannya yang tau). Bibir kami saling memagut, mendesah
gelisah berpeluh birahi. Tidak butuh waktu lama, pakaian atasku sudah terlucuti habis. Sesekali
aku mengerang penuh nikmat ketika dada kecilku dilumat olehnya.

"Bebi ayoooo..." rengekku.
"Ayo apa sih?" tanyanya mendesah hebat.
"Loh, katanya kita mau cari mam duluuu.." rengekku lagi setengah lapar dan setengah napsu.
"Yuk!" jawbnya singkat, tapi malah menarikku lebih dalam kepelukannya.
Aku tak kuasa menolak, temaram cahaya yang ku dapat dari kamar mandi berdendang indah
dipadu nada rintihan dan tawa kecil berbalut cinta. 

PART I

Penat, hanya itu yang bisa aku ungkapkan dalam hati. sepanjang hari yang ku isi dengan
menonton tv dan game di handphone. Benar-benar killing time. Tidak ada yang dapat aku
ajak berbicara, baik verbal maupun lisan. Kebetulan juga eh gak ding lebih sialnya lagi tepatnya
BIS ku habis dari sabtu sisang. Jangankan untuk bersosialisasi dengan jempolku, untuk sekedar
ber txt ria pun harus aku pikir-pikir lagi. Maklum cyiiinnn... akhir bulan, kering kerontang.


Akhir bulan emang selalu seperti ini, apa lagi yang namanya abis lebaran. Sampai-sampai
uang receh sisa kami makan di dompet lelakiku yang tinggal 24 ribu, aku sikat habis. 
Dengan anggaran makan 12 ribu, dan sisanya bisa aku pakai untuk ongkos ke kantor, 
urusan makan bisa diatur nanti. Aku yakin Tuhan akan membagi sedikit rejekinya padaku
walaupun kata Tuhan, dosaku melebihi gunung kawi. hehehe


Sejenak, ku hisap rokok menthol yang hanya berjarak satu senti dari filternya, sekali hisap
habis lah semua. Puntungnya dengan enteng aku cemplungkan kedalam gelas bekasku 
menyeduh teh tadi pagi. Cessss... 


Oya, aku ingin memperkenalkan diri. Namaku.. emh, entahlah aku rasa tidak ada yang cocok
aku ibaratkan diriku dengan sebuah nama selain nama asliku. Berhenti mengetik, melihat kearah
TV yang menyiarkan lelaki-lelaki muda yang sedang asik berjingkrak dengan lagu yang jika
aku ibaratkan seperti sampah di bantar gebang sana. Very disgusting weeekkk
Biasalah, Indonesia memang negara latah. Boyband dan girl band kualitas teri pun mereka
keluarkan. Asal bisa jingkrak-jingkrak dan menyanyi menyerempet benar, jadilah mesin
pencetak uang. Ah sudahlah, itu memang rejeki mereka, aku pun tidak akan menolak jika
ada yang menawari ku jadi girlband. hehehe.. 


Pandanganku kembali focus kelayar ponsel yang tadi sempat aku acuhkan, kembali mencari
kalimat terakhir. Oh, perkenalan ya.. perkenalan, tapi aku masih bingung menceritakan 
siapa aku ini. Ok lah, panggil saja aku mawar hahahaha, gak deng kalo kayak gitu aku kayak
korban pemerkosaan di tv-tv yang lagi diwawancara wartawan daerah dong. :D


Sepertinya aku harus meninjau ulang dan mengamini perumpaan, apalah arti sebuah nama.
Betul kan? toh walaupun aku bilang namaku Winona Ryder Parisi Hiltoni Madonawati tidak 
akan ada yang tau dan peduli. Just call me with aku, ok sip??


Setidaknya, malam minggu ini aku tidak kesepian, karena lelakiku menginap di kamarku,
menampung rasa rindu dan birahi yang baru sehari tidak tersalurkan. Walaupun lelakiku
bangun pukul 08.30 dan langsung buru-buru pulang karena panggilan telepon yang
sejak semalam tidak berhenti berdering. Aku tau, walaupun ponselnya di silent abis. 
Aku kan pintar, hehehe.. ya paling juga istrinya yang menelepon.....